May 26, 2017

Mengaku Keturunan Raja Nasira Dirikan Saoraja

Mengaku Keturunan Raja Nasira Dirikan Saoraja

WAJO – Salah satu Rumah yang berlokasi di Kelurahan Cempa Lagi, Kecamatan Tempe, Kabupaten Wajo. Pemiliknya memberikan nama Saoraja Mallawa Baru Langkenna Botting Langi. Saat ditemui Wartawan, Wanita paruh bayu itu mengaku bernama Hj. Andi Nasira menurutnya, Keberadaan rumahnya itu mendapat dukungan para Raja-raja dibeberapa daerah di indonesia bahkan dari luar Negeri.

“Rumah ini namanya Saoraja mallawa baru botting langi, dan keberadaannya telah di dukung oleh raja-raja rencananya bulan lima nanti ada yang mau datang dari negara Berunai dan Malaysia, Ada yang mengatakan diri saya Datu (Raja) dan itu boleh-boleh saja dan ada juga yang mengatakan saya orang biasa itu juga boleh karena saya memang tidak mau terlalu menampakkan diri, Messuka mita tajang (keluar melihat dunia) akupun diberi nama Andi Nasira namun orang lebih mengenalku dengan nama aji Nasira “kata wanita yang profesinya sebagai dukung sejak 10 tahun silam dengan bahasa bugisnya.

Nasira juga mengakui, memiliki garis keturunan raja dari beberapa daerah, bahkan menurutnya, memiliki semacam buku sejarah ketika dalam bahasa bugis dikenal dengan nama Lontara (Silsila) tentang dirinya.

“Ketika ada yang pertanyakan garis keturunanku suruh saja kerumah dan akan saya jelaskan, bahkan masalah rumahku yang memiliki Timpa Laja (Tingkap Luar) sebanyak sembilan susun itu juga akan kujelaskan. Dari Soppeng saya cucunya Andi Tenri Lawa, dari Tator nenek saya bernama Puang Maringgi, ketika dari Luwu keturanan opu pajung Pammulange (pertama) bernama Andi Jemma.

Bukan hanya dari Luwu, Tator dan Soppeng Wanita ini juga mengakui, Dari Bone dirinya masih memiliki garis keturunan dari Arung Palakka,” iya eppo wakkangna arung Palakka nappi cera kedua (cucu arung palakka), “katanya

Dihubungi terpisah, Pemerhati budaya Andi Rahmat Munawar mengatakan,
Tidak ada masalah ketika seseorang mau mengaku dirinya siapa termasuk mengaku raja. Menurutnya yang masalah ketika orang tersebut mengaku raja penerus Wajo tanpa adanya kesepakatan tokoh adat wajo untuk memilih raja atau arung matoa.

Lanjut Andi Rahmat, Ketika mengaku arung matoa tanpa kesepakan itu adalah pelecahan bagi maayarakat Wajo maupun terhadap adat istiadat di Wajo.

” Boleh saja melestarikan dan mencintai budaya tapi bukan dengan cara menginjak injak adat istiadat masyarakat setempat. Artinya melestarikan budaya haruslah mengikuti adat istiadat setempat, dan ini perlu di usut apa motif terkait raja palsu yg selalu mencari legitimasi dari luar termasuk luar Negeri, Bahkan mengumpukan raja se asia tanpa melihat adat istiadat masyarakat setempat dalam hal ini tidak ada kesepakatan sebelumnya dengan masyarakat ataupun tokoh adat di Wajo dan itu sudah menginjak-injak adat istiadat setempat .”katanya

Terkait rumah yang memilki timpa laja (tingkap luar) sembilan susun itu menurut Andi Rahmat Munawar, keberadaannya telah melanggar aturan adat setempat, Rumah adat semacam itu hanya diperuntukkan untuk to manurung sedangkan sekarang bukan eranya to manurung. ” Yang paling penting bahwa ada sanro (dukung) mengaku mendapat petunjuk untuk mendirikan saoraja sebagai tolak bala, pelaksanaan adat diwajo tidak boleh berangkat dari petunjuk dukung,” tegasnya (ILE)

Subscribe

Thanks for read our article for update information please subscriber our newslatter below

No Responses

Leave a Reply